Industri Pelabuhan Dan Pelayaran Bersiap Hadapi Revolusi 4.0

0
63

(maritimedia.com) – SURABAYA – Kehadiran revolusi industri 4.0 ditandai dengan otomatisasi dan digitalisasi. Hal ini akan membuat dampak yang berarti bagi masa depan industri di Indonesia.

“Hampir semua industri mengharapkan adanya otomatisasi guna mendorong bisnisnya, termasuk industri di pelabuhan. Maka dari itu revolusi industri 4.0 di sektor pelabuhan merupakan hal baik untuk menuju smart port dan smart supply chian,” kata Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Ekonomi dan Investasi Transportasi, Prof. Wihana Kirana Jaya saat membuka Dialog Strategis “Revolusi 4.0 Industri Pelabuhan & Pelayaran” yang diselenggarakan oleh Ocean Week di Hotel Borobudur Jakarta, (6/3/19) kemarin.

Lebih lanjut Prof. Wihana mengatakan, pada tahun 2023, Pasar Logistik akan menjadi salah satu industri terbesar di dunia. Indonesia harus dapat memanfaatkan potensi sebagai Negara maritim dengan cara menguasai teknologi dan digitalisasi.

“Kita harus menjadi pemain utama dalam industri pelabuhan dan pelayaran ini karena Indonesia adalah negara maritim di mana 40 % perdagangan logistik dunia melewati perairan Indonesia,” kata Prof. Wihana.

Kementerian Perhubungan kata Prof. Wihana, telah memulai upaya-upaya digitalisasi, seperti melakukan Transhub Challenge untuk mendorong start-up digitalisasi di bidang transportasi hingga mengembangkan sistem inaportnet versi 2.0.

“Pemerintah berharap perkembangan revolusi 4.0 di industri pelayaran semakin cepat sehingga mampu mewujudkan sistem logistik Indonesia yang lebih efisien dan berdaya saing,” ucap Prof. Wihana dalam berita Humas Laut Kemenhub.

Sementara itu, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Kementerian Perhubungan Baitul Ihwan menekankan pentingnya penerapan teknologi informasi di sektor transportasi laut.

“Penerapan teknologi informasi menjadi salah satu grand strategy dan kebijakan umum di sektor transportasi laut yang mendasari seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah termasuk dalam bidang kepelabuhanan,” kata Baitul di Jakarta.

Baitul menjelaskan, dalam konsep pelabuhan modern, sebuah pelabuhan tidak hanya menjadi transportation center, tetapi juga menjadi sebuah logistic & service center di mana banyak transaksi ekonomi dan administrasi yang dilakukan.

“Disinilah teknologi informasi berperan untuk membuat proses transaksi ekonomi dan administrasi bisa dilakukan lebih cepat, murah, dan transparan,” jelas Baitul.

Baitul menambahkan, saat ini, inaportnet telah diterapkan pada 16 pelabuhan strategis dan digunakan secara daily basis untuk mengelola layanan pelabuhan mulai dari kedatangan dan keberangkatan kapal, proses bongkar muat, hingga pemantauan proses keluar masuk barang. Kemenhub juga telah menyusun rencana penerapan jangka panjang hingga tahun 2024.

“Dalam kurun waktu 2020 hingga 2024 nanti, kami menargetkan inaportnet ini bisa diterapkan di 109 lokasi pelabuhan baru yang meliputi 1 (satu) pelabuhan KSOP Khusus Batam, 4 (empat) pelabuhan UPP Kelas I, 16 pelabuhan KSOP Kelas III, 48 pelabuhan KSOP Kelas IV, dan 40 pelabuhan UPP Kelas II,” pungkas Baitul.

Turut hadir sebagai narasumber pada Dialog Strategis Revolusi 4.0 Industri Palabuhan dan Pelayaran antara lain Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Kementerian Perhubungan, perwakilan Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Ketua Umum DPP INSA, Direksi PT. Pelindo II, perwakilan DPP ALFI, Pakar Teknologi Prof. Richardus Eko Indrajit, Pakar IT Jati Widagdo dan Presiden Direktur CMA-CGM Indonesia Farid Belbouab serta dimoderatori oleh Saut Gurning Akademisi ITS.

Comments are closed.