Jurnalisme Personal

0
34

Dalam “30 Tahun Pos Kota Melayani Pembaca”, Ekonom Christianto Wibisono meramalkan kurun waktu 25 tahun (sejak tahun 2000) media-media cetak akan mengalami guncangan hebat. Menurutnya, tayangan televisi dan media-media online akan menjadi faktor utama penyebab guncangan tersebut.

Tidak sampai 25 tahun, guncangan itu datang lebih awal. Tidak hanya di Indonesia, juga mancanegara. Pasca tumbangnya The New York Times, menyusul Newsweek, Tribune Co, dan sejumlah media lokal lainnya. Di Indonesia, media olah raga paling legend, Harian Bola, dan majalah remaja paling fenomenal, Hai, juga  tumbang mengiringi media-media cetak lainnya yang sudah lebih dulu hilang dari peredaran.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS/Serikat Perusahaan Pers) mencatat pertumbuhan minus oplah media cetak. Dari sekitar 1000-an penerbit, 404 penerbitan juga mengalami kebangkrutan. Kecemasan tak berakhir di situ, kurun waktu yang sama pendapatan iklan media cetak pun anjlok sampai 40%.

Data-data di atas menegaskan makin beratnya tantangan media untuk bisa tetap survive. Bukan hanya media cetak, tapi juga media online. Perkembangan teknologi informasi yang demikian cepat membuat perubahan terjadi setiap waktu. Ditambah lagi kehadiran media-media sosial  yang menjadi semacam afirmasi problematika media belakangan ini.

Repotnya, pada sebagian orang, media-media arus utama pun sudah dianggap tidak mewakili lagi informasi yang dibutuhkan. Ada semacam tudingan, media-media tersebut telah berafiliasi dan menjadi anjing penjaga kekuasaan. Maka media-media sosial dengan beragam informasi yang terlepas dari kesahihannya makin memenuhi ruang-ruang privat para penggunanya. Terkesan pengap, gaduh, dan bising.

Bagi para pekerja media, situasi tersebut sungguh dilematis. Mereka yang bekerja di media-media arus utama akan berhadapan dengan banyak kepentingan: pemilik media, publik dan juga penguasa. Ironisnya, dari 3 tersebut, sebagian publik menganggap media sudah tidak mewakili lagi kepentingan mereka.

Dalam kondisi tersebut, para awak media mungkin perlu mencari jalan agar tetap bisa memenuhi harapan ‘para stake holder’. Paling tidak, sebagaimana ditawarkan pengamat politik yang juga mantan pekerja pers Eep Saefuloh Fatah yang mengutip kemampuan para pelopor pers nasional yang bisa  tetap survive di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.

Menurut Eep, kata kuncinya terletak pada kompetensi dari para jurnalis dalam membedah isu yang menjadi topik pemberitaan. Eep menyebut kemampuan para jurnalis tersebut dengan istilah jurnalisme personal.

Dalam definisi yang lebih luas, jurnalisme personal tidak sekadar memposting press release yang dikirim humas, tapi juga mengkonfirmasikan info-info tersebut dengan sumber-sumber lain yang juga kompeten. Dengan demikian, media tidak terkesan hanya sebagai ruang placement berita yang punya kesamaan judul, konten hingga titik koma, tapi menjadikannya lebih kaya informasi.

Pada prakteknya, jurnalisme personal tidak semata bagi jurnalis yang bekerja di media arus utama, bahkan mereka yang bekerja di media-media yang tidak diperhitungkan sekalipun. Karena pada kenyataannya, di era sekarang ini, informasi sering kali tidak diukur dari sumber berita media mainstream atau bukan, tapi sejauh mana bisa cepat menjadi viral.

Pilihan ini memang tidak mudah. Apalagi bila berhadapan dengan humas yang sekadar berbagi data pun, selalu menjawab, mohon ditunggu, sedang disiapkan, dan bahkan tak menjawab sama sekali.

Padahal, seperti pernah diungkapkan Direktur Utama IPC Pelindo II, Elvyn G Masasya, saat  ini selayaknya media mengedepankan jurnalisme yang optimis, informasi-informasi yang mencerahkan. Pada sisi itu, kita semua sepakat dengan ungkapan tersebut. Tentu saja itu pun disertai prasyarat kemudahan terhadap akses informasi yang dibutuhkan. Di sinilah peran humas-humas di semua perusahaan turut menjadi katalisator dari terwujudnya harapan tersebut.

Dukungan para humas dalam bentuk sharing informasi akan sangat bermanfaat tidak hanya sebagai bagian dari cover both side, tapi menambah wawasan para jurnalis tentang isu-isu yang diberitakan. Selain itu, menambah ‘bahan baku’ bagi jurnalis yang bersangkutan manakala ingin menaikkannya dalam bentuk indepth reporting sebagaimana dimaksud jurnalisme personal tersebut.

Dengan kelebihan waktu tayang dan ruang yang lebih luas untuk berekspresi, konsep jurnalisme personal akan lebih mendapat tempat. Tulisan-tulisan yang dikemas secara komprehensif akan lebih menarik minat pembaca ketimbang berita-berita yang bersifat straight news.

Jangan lupa, jika media-media cetak berbicara oplaag, media-media online berbicara visitor (viewer) atau seberapa banyak jumlah pembaca yang berkunjung. Orang bisa berbohong dengan jumlah oplaag, tapi visitor tidak. Karena alat ukur yang jelas itu, teorinya para pemasang iklan pun akan lebih mudah di media online ketimbang media cetak.

Terlepas dari hal tersebut, dukungan dari para narasumber dalam mendukung kerja dan kegiatan para jurnalis tentu sangat diapresiasi. Bagaimanapun seperti apapun bentuk informasi yang disampaikan, sepanjang bisa mendukung kerja-kerja jurnalistik tentu akan sangat bermanfaat. Apalagi jika informasi tersebut menggugah kuriositas yang menjadi modal dasar jurnalisme personal yang seharusnya juga amat dibutuhkan untuj bisa tetap survive di era lalu lintas informasi yang begitu padat.*

Dirgahayu. Selamat merayakan Hari Pers Nasional!

Comments are closed.