Indonesia Pertegas Komitmen Perlindungan Terumbu Karang dalam Pertemuan ICRI

0
57

(maritimedia.com) – SURABAYA – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti hadir pada Rapat Umum (General Meeting) International Coral Reef Initiative (ICRI) di Monaco, Rabu (5/12) kemarin.

Sebagai perwakilan Indonesia yang menjadi salah satu Ketua Bersama ICRI, Menteri Susi turut menjadi pembicara kunci dalam Rapat Umum ICRI yang dibuka oleh Pangeran Albert II Monaco.

Pada Rapat Umum ICRI ini dibahas Rencana Aksi 2018-2020 Ketua Bersama ICRI yang difokuskan pada empat tema, yaitu promosi solusi efektif dan adaptif peningkatan perlindungan terumbu karang; pemahaman tren/kecenderungan terumbu karang; perdagangan ikan karang hidup; dan upaya mengurangi ancaman antropogenik terhadap terumbu karang pada skala global dan regional.

Dalam sambutannya, Menteri Susi menyampaikan bahwa terumbu karang dunia kini tengah menghadapi ancaman, termasuk di Indonesia. Terumbu karang di dunia terus berkurang akibat pemanasan global (global warming) yang mengakibatkan peningkatan suhu permukaan laut dan coral bleaching, penangkapan ikan dengan cara yang merusak (destruvtive fishing), pembangunan di sepanjang pantai yang menyebabkan sedimentasi, hingga kebiasaan membuang sampah ke laut.

“Kebiasaan membuang sampah ke laut menyebabkan penurunan kualitas pesisir. Begitu pula dengan praktik Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing yang juga menjadi ancaman bagi keberlanjutan ekosistem terumbu karang dan menghilangkan stok ikan karang konsumsi,” tutur Menteri Susi dalam pidatonya dikutip berita Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Untuk itu, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya pelestarian dan pencegahan kerusakan terumbu karang salah satunya dengan mengeluarkan Perpres Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut.

Menteri Susi juga menyoroti pengambilan beberapa jenis terumbu karang yang marak dilakukan untuk dijadikan hiasan akuarium. Terlebih lagi, aktivitas pengambilan tersebut masih menggunakan metode yang tidak ramah lingkungan.

Oleh karena itu, Menteri Susi menilai upaya pelestarian perlu terus ditingkatkan. Apalagi terumbu karang sangat berperan penting dalam kelestarian ekosistem pesisir. Terumbu karang menjadi sistem penyangga kehidupan wilayah pesisir dan laut dengan menjadi tempat memijah dan mencari makanan berbagai biota laut.

Sebagai bentuk keseriusan dan komitmen Indonesia dalam pelestarian terumbu karang, Menteri Susi mengungkapkan bahwa Indonesia telah berperan dalam berbagai forum internasional. Selain menjadi Ketua Bersama ICRI, Indonesia juga merupakan inisiator pembentukan Coral Triangle Initiative on Coral Reef Fisheries and Food Security (CTI-CFF) yang beranggotakan 6 negara yaitu Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Indonesia.

Menteri Susi menambahkan bahwa Indonesia juga merupakan penggagas lahirnya resolusi Coral Reef Sustainable Management dalam forum United Nation Environtment Assembly 2 (UNEA-2).

Selain itu, persoalan pelestarian terumbu karang juga selalu diusung Indonesia ketika menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan berbagai forum kelautan, seperti penyelenggaraan World Ocean Conference (WOC) tahun 2009 di Manado, dan yang terbaru Our Ocean Conference (OOC) pada Oktober 2018 lalu.

Sebagaimana diketahui, Indonesia resmi menjadi bagian ICRI pada periode 2018-2020 pada 4 Juli 2018 lalu, bahkan ditunjuk sebagai Ketua Bersama Sekretariat ICRI bersama Monaco dan Australia. Keikutsertaan Indonesia dalam ICRI ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam konservasi pengelolaan terumbu karang dunia, khususnya di Indonesia.

Indonesia sendiri memiliki ekosistem terumbu karang seluas 2,5 juta hektar dengan 569 spesies dan 4 spesies endemik. Artinya, sebagian besar spesies terumbu karang dunia dapat ditemukan di Indonesia. Oleh karena itu, tak heran jika Indonesia menaruh perhatian khusus terhadap kelestarian terumbu karang.

Comments are closed.